Sekilas tentang Saya

Foto Saya
saya hanya seorang anak manusia yang sedang belajar memaknai kehidupan dengan semua permasalahan di dalamnya tentunya semua hanya untuk Rabbul Izzati Allah...

Kamis, 26 Mei 2011

Tulisan dan Ucapan Salam "Assalamu'alaikum"

Bismillahirrohmanirrohiim…
Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaanii, yafqohuu qoulii.



Terkadang aku suka bingung mendapati saudara2ku sendiri yang (mungkin) keliru memaknai ucapan “Salam” yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya (QS.24: 27), dengan benar-benar kata “Salam” yang disampaikan atau dituliskannya.


Sementara orang-orang dari kelompok JIL juga berusaha menghantam akidah Islam melalui pembudayaan ucapan tersebut. Masalahnya, benarkah sesungguhnya demikian yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya..? InsyaAllah dalam tulisan ini aku akan menampilkan dalil-dalilnya.


Ada juga yang tidak kalah lengahnya alias MALAS sehingga “assalamu’alaikum” itu mereka singkat dengan tulisan “Ass…!?” Coba teliti lagi, apakah ada artinya kata “ass” itu dalam bahasa Arab, Indonesia, Malaysia, atau Inggris. Ternyata dari 4 alternatif pilihan arti bahasa, hanya ada di bahasa Inggris untuk kata “Ass” itu memiliki arti. Dan artinya pun bukanlah do’a keselamatan seperti termaktub dalam kata “assalamu’alaikum”, melainkan artinya menurut kamus bahasa inggris adalah: (1) keledai (2) orang yang bodoh (3) pantat. Terus terang aku tidak berkenan DISAPA dengan kata yang memiliki 3 arti seperti itu. Sebab di dalam artinya tidak ada bentuk kesopanan. Apalagi hal ini sudah masuk ke dalam wilayah AKIDAH.

Keutamaan Mengucapkan Salam & Perintah Menyebarkannya.


Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a.,

Bahwasanya seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw.: “ Apakah yang terbaik di dalam Islam ?” Jawab Nabi saw.: “ Kamu memberikan makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan tidak kamu kenal .” (Shahih Diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim).

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abi Hurairah r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda:

“Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan Adam pada bentuknya, yang tingginya mencapai enampuluh hasta. Ketika Allah menciptakannya, Dia berkata: “Pergilah dan ucapkanlah salam kepada mereka (seorang dari malaikat yang duduk). Perdengarkanlah apa yang mereka sampaikan kepadamu, sebab itu adalah do’a bagimu dan do’a bagi keturunanmu. Maka Adam mengucapkan “ Assalamu’alaika wa rahmatullahi ”, para malaikatlah yang menambah “Warahmatullah.” (Shahih Diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim).


Adab & Cara Mengucapkan Salam.

Lebih utama, seorang mengucapkan salam dengan ucapan: “ Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh ”, dengan kata pengganti plural (jama’). Begitu juga, jawaban: “ Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh ”, dengan kata pengganti plural (jama’). Dan kata dalam “Wa’alaikum” itu menggunakan Waw ‘Athaf (penghubung).

Cara ini seirama dengan yang pernah disampaikan oleh Abu Hasan Al Mawardi bagi yang memulai salam, dalam kitab al Hawi dan kitab as Siyar, sedangkan Abu Sa’d Al Mutawali menyebutkannya dalam kitab Shalat Jum’at.

Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan dalam Musnad Ad Darami, Sunan Abi Daud dan Sunan Tirmidzi, dari Imran bin Al Hashin r.a., ia berkata:

“Seorang datang kepada Nabi saw. Dan mengucapkan: “Assalamu’alaikum. Maka dijawab oleh Nabi saw., kemudia ia duduk. Nabi bersabda: “Sepuluh.” Kemudian datang pula lain orang memberi salam: “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.” Dam setelah dijawab oleh Nabi saw. Ia duduk. Nabi pun berkata: “Dua puluh.” Kemudian orang ketiga datang dan mengucapkan “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.” Maka dijawab Nabi saw. Dan Nabi berkata: “Tiga puluh” (*)

Berkata Tirmidzi: Hadits ini derajatnya hasan.

Diriwayatkan dalam Abu Daud, dari Mu’adz bin Anas r.a., tambahan dari hadits sebelumnya, dan yang diakhir kalimatnya adalah: “Assalamu’alalikum wa rahmatullahi wa barakatuh wa maghfiratuh.” Nabi berkata: “ Empat puluh pahala dan beginilah keutamaan-keutamaannya ,”

(*) Diriwayatkan dalam Sunan Tirmidzi (264) dengan sanad hasan. Sedangkan riwayat Mu’adz bin Anas sanadnya dha’if.


Jika seseorang mengucapkan salam dengan “Assalamu’alaikum”, maka dia pun memperoleh jawaban salam. Dan jika dengan “Assalamu’alaika atau Salamun ‘alaika, maka memperolah jwaban juga.

Paling sedikit, jawabannya “Wa’alaika salam atau ‘Alaikum salam,” Apabila huruf waw-nya dihilangkan, maka ucapkan ‘Alaikum salam”, dan jawaban ini tetap diberi pahala. Inilah madzhab yang benardan masyhur, yang disinyalir Imam Syafi’i dalam kitab al Umm dan mayoritas ulama .

Sedangkan Abu Sa’d Al Mutawali mengatakan dalam kitab at Tatmah, ucapan ‘Alaikum salam” itu tidak berhak atasnya pahala dan jawaban. Namun pendapat ini, menurut Imam Syafi’i lemah dan salah, juga bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai landasan syari’at kita. Allah ta’ala berfirman:
“ Mereka mengucakan, “Selamat”. Ibrahim menjawab, “Selamat atas kamu .” (QS. Hud: 69).

Sebagai penegas, Rasulullah saw. Bersabda, dari Abi Hurairah r.a., tentang jawaban malaikat terhadap Adam a.s. Nabi saw. mengabarkan kami, bahwasanya Allah ta’ala berkata: “Dia adalah do’a bagimu dan do’a bagi keturunanmu.” Ummat, masuk dalam ketegori keturunan Adam.

Sebagian ulama yang lain bersepakat, jika hanya dengan ucapan ‘Alaikum, maka bukanlah termasuk jawaban. Kemudian, jika ditambah huruf waw (wa’alaikum), apakah bias dianggap sebagai jawaban…?

Ada dua pandangan, menurut mereka: “Salamun ‘alaikum” atau “Assalamu’alaikum”, untuk salam yang diucapkan. Jawabannya pun bisa dengan dua versi: “Salamun ‘alaikum” atau “Assalamu’alaikum.” Pendapat ini disandarkan kepada firman-Nya:
“Mereka mengucapkan, “Selamat”. Ibrahim menjawab, “Selamat atas kamu.” (QS. Hud: 69).

“Dengan alif lam atau tidak, itu sama”, ungkap Imam Abu Al Hasan Al Wahidi.
“Namun menggunakan alif dan lam itu lebih utama”, sanggah Imam Nawawi.


Nah saudara-saudariku rahimahullah,
Jelas bukan, bahwa dari dalil-dalil tersebut di atas TIDAK ADA satu pun yang mengatakan kata SALAM apalagi ASS. Jadi untuk “Salam” itu dapat di ibaratkan (misalnya) “MAKANAN.” Masalahnya makanan apa..!? Rujak..? Rujak aja ada rujak buah, rujak bebek, dll. Apa donk..!? Makanan ringan, makanan berat, makanan hewan, makanan basi…!? Banyak kan…

Nah sementara yang dimaksud oleh al-Qur’an maupun as-Sunnah untuk salam itu seminim-minimnya adalah ASSALAMU’ALAIKUM…

Apakah Anda masih akan membiarkan diri untuk menulis kata “assalamu’alaikum” dengan SALAM..!? Dan apakah Anda juga akan masih menerima apabila seseorang yang menuliskan sesuatu kepada anda (ASS) dengan arti: (1) keledai (2) orang yang bodoh (3) pantat…? Segala sesuatunya aku kembalikan kepada Anda jika bersedia dan mau mencernanya dengan baik.

(Copas dari http:2i2h.multiply.com)

KAWAN YUK MARI BELAJAR MENULIS DAN MENGGUNAKAN SALAM SECARA BENAR, 
KARENA SALAM ADALAH DOA
*Belajar memperbaiki diri, agar mendapat yang baik pula*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar